Rifka Annisa yang berarti “Teman Perempuan” adalah sebuah organisasi non pemerintah yang didirikan pada tanggal 26 Agustus 1993. Sebelumnya Rifka Annisa dikenal sebagai pusat krisis untuk perempuan. Sejak tanggal 20 Mei 2005 Rifka Annisa menjadi perkumpulan.
Organisasi ini berdiri karena keteguhan hati beberapa aktivis perempuan di Yogyakarta, Indonesia, di antaranya Suwarni Angesti Rahayu, Sri Kusyuniati, Latifah Iskandar, Desti Murdijana dan Sitoresmi Prabuningrat. Para perempuan aktivis ini bermaksud untuk menyediakan dukungan untuk perempuan korban kekerasan.
Gagasan pendirian organisasi ini muncul dari kepedulian yang dalam terhadap kecenderungan budaya patriarkhi yang pada satu sisi memperkuat posisi laki-laki dan memperlemah posisi perempuan pada sisi yang lain. Sebagai akibatnya perempuan menjadi rentan terhadap kekerasan seperti perkosaan, pelecehan seksual, kekerasan dalam rumah tangga dan sebagainya.
Banyak perempuan korban kekerasan telah mengadu ke Rifka Annisa sejak awal pendirian organisasi ini.
Selain menyediakan layanan untuk perempuan korban kekerasan (sebagai pusat krisis untuk perempuan), baru-baru ini Rifka Annisa menetapkan untuk menjadi pusat pengembangan sumberdaya manusia untuk penghapusan kekerasan terhadap perempuan di Indonesia.
Rifka Annisa, which means “Women’s Friend” is a Non Governmental Organization established in August 26, 1993. Previously Rifka Annisa was well known as Rifka Annisa Women’s Crisis Center. From 20 May 2005 Rifka Annisa became an association.
This organization was established through the courage of several women
activist in Jogjakarta Indonesia, among others, Suwarni Angesti Rahayu, Sri Kusyuniati, Latifah Iskandar, Sitoresmi, and Desti Murdijana. These women activists wanted to provide support for women survivors of violence.
The idea to establish this organization emerged from a deep concern about the tendencies of patriarchal culture, which empowers men and weakens the position of women. As the result, women are becoming more and more vulnerable to abuse such as rape, sexual harassment, domestic violence, and so on.
Many women survivors of violence have come to Rifka Annisa since the beginning of their establishment.
In addition to providing services for women survivorS of violence (women’s crisis center), Rifka Annisa has recently also become a center for human resource development in the elimination of violence against women in Indonesia